Cari Blog Ini

Sabtu, 26 Maret 2011

- Buku Bertinta Emas -


Seorang pemuda sebentar lagi akan diwisuda, sebentar lagi dia akan menjadi  seorang sarjana, akhir dari jerih payahnya selama beberapa tahun di bangku  pendidikan.
Beberapa bulan yang lalu dia melewati sebuah showroom, dan saat  itu dia jatuh cinta kepada sebuah mobil sport, keluaran terbaru dari Ford.
Selama beberapa bulan dia selalu membayangkan, nanti pada saat wisuda  ayahnya pasti akan membelikan mobil itu kepadanya. Dia yakin, karena dia  anak satu- satunya dan ayahnya sangat sayang padanya, sehingga dia yakin  banget nanti dia pasti akan mendapatkan mobil itu.
Dia pun berangan-angan  mengendarai mobil itu, bersenang-senang dengan teman-temannya, bahkan semua  mimpinya itu dia ceritakan keteman- temannya.
Saatnya pun tiba, siang itu, setelah wisuda, dia melangkah pasti ke ayahnya. Sang ayah tersenyum, dan  dengan berlinang air mata karena terharu dia mengungkapkan betapa dia bangga akan anaknya, dan betapa dia mencintai anaknya itu.
Lalu dia pun  mengeluarkan sebuah bingkisan,... bukan sebuah kunci !
 Dengan hati yang  hancur sang anak menerima bingkisan itu, dan dengan sangat kecewa dia membukanya. Dan dibalik kertas kado itu ia menemukan sebuah buku yang  bersampulkan kulit asli, dikulit itu terukir indah namanya dengan tinta  emas. Pemuda itu menjadi marah, dengan suara yang meninggi dia berteriak,
"Yaahh... Ayah memang sangat mencintai ku, dengan semua uang ayah, ayah  belikan buku ini untukku ?" Lalu dia membanting buku itu dan lari  meninggalkan ayahnya.  Ayahnya tidak bisa berkata apa-apa, hatinya hancur,  dia berdiri mematung ditonton beribu pasang mata yang hadir saat itu.
 Tahun  demi tahun berlalu, sang anak telah menjadi seorang yang sukses, dengan  bermodalkan otaknya yang cemerlang dia berhasil menjadi seorang yang  terpandang. Dia mempunyai rumah yang besar dan mewah, dan dikelilingi istri  yang cantik dan anak-anak yang cerdas. Sementara itu ayahnya semakin tua dan  tinggal sendiri. Sejak hari wisuda itu, anaknya pergi meninggalkan dia dan  tak pernah menghubungi dia. Dia berharap suatu saat dapat bertemu anaknya  itu, hanya untuk meyakinkan dia betapa kasihnya pada anak itu. Sang anak pun  kadang rindu dan ingin bertemu dengan sang ayah, tapi mengingat apa yang  terjadi pada hari wisudanya, dia menjadi sakit hati dan sangat mendendam.
Sampai suatu hari datang sebuah telegram dari kantor kejaksaan yang  memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal, dan sebelum ayahnya meninggal,  dia mewariskan semua hartanya kepada anak satu-satunya itu. Sang anak  disuruh menghadap Jaksa wilayah dan bersama-sama ke rumah ayahnya untuk  mengurus semua harta peninggalannya. Saat melangkah masuk ke rumah itu,  mendadak hatinya menjadi sangat sedih, mengingat semua kenangan semasa dia  tinggal di situ. Dia merasa sangat menyesal telah bersikap jelak terhadap  ayahnya. Dengan bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di matanya, dia menelusuri semua barang dirumah itu. Dan ketika dia membuka brankas ayahnya, dia menemukan buku itu, masih terbungkus dengan kertas yang sama beberapa  tahun yang lalu. Dengan air mata berlinang, dia lalu memungut buku itu, dan mulai membuka halamannya.
Di halaman pertama, dia membaca tulisan tangan ayahnya, "Sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi  orang lain. Dan Tuhan Maha Kaya dari segala apa yang ada di dunia ini"  Selesai dia membaca tulisan itu, sesuatu jatuh dari bagian belakang buku  itu. Dia memungutnya,.... sebuah kunci mobil ! Di gantungan kunci mobil itu  tercetak nama dealer, sama dengan dealer mobil sport yang dulu dia idamkan !
Dia membuka halaman terakhir buku itu, dan menemukan di situ terselip STNK  dan surat-surat lainnya, namanya tercetak di situ. dan sebuah kwitansi  pembelian mobil, tanggalnya tepat sehari sebelum hari wisuda itu. Dia berlari menuju garasi, dan di sana dia menemukan sebuah mobil yang berlapiskan debu selama bertahun-tahun, meskipun mobil itu sudah sangat  kotor karena tidak disentuh bertahun-tahun, dia masih mengenal jelas mobil  itu, mobil sport yang dia dambakan bertahun-tahun lalu. Dengan buru-buru dia  menghapus debu pada jendela mobil dan melongok ke dalam. bagian dalam mobil  itu masih baru, plastik membungkus jok mobil dan setirnya, di atas dashboardnya ada sebuah foto, foto ayahnya, sedang tersenyum bangga.  Mendadak dia menjadi lemas, lalu terduduk di samping mobil itu, air matanya  tidak terhentikan, mengalir terus mengiringi rasa menyesalnya yang  tak  mungkin diobati........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar